Sabtu, 15 Oktober 2011

KETUA KELAS

Ulis dan Titi berjalan menyusuri sisi jalan. Hari ini adalah hari pertama mereka masuk sekolah kembali setelah liburan panjang. Itulah yang membuat mereka berangkat agak pagi, biar cepat tiba di sekolah.


MENYENANGKAN sekali akhirnya kita bisa berkumpul lagi dengan teman-teman," gumam Ulis.


"Tentu saja. Dan semoga di kelas lima ini suasananya akan bertambah menyenangkan. Kelas baru, wali kelas baru, dan ketua kelas baru," timpal Titi seraya tersenyum.


"Ketua kelas baru? Ah, aku lebih senang kalau Joko tetap menjadi ketua kelas. Waktu kelas empat kan dia menjalankan tugasnya sebagai ketua kelas dengan baik," sergah Ulis. "Ti, apakah kamu berminat mencalonkan diri menjadi ketua kelas?"


Titi tertawa kecil mendengar pertanyaan sahabatnya. "Tidak. Masih banyak teman kita yang lebih baik dari aku. Asal tidak Windya saja yang menjadi ketua kelas," jawab Titi kemudian.


"Aku akan memilihnya kalau saja ia bisa menghilangkan kebiasaan buruknya. Kebiasaan yang ingin menang sendiri dan sombong itu ...."


Ucapan ulis terputus karena tiba-tiba sebuah sedan berwarna putih berhenti mendadak di dekat mereka. Seraut wajah muncul dari jendela pintu mobil. Itu wajah Windya yang baru saja mereka bicarakan.


"Hei, kalian, ikut mobilku saja!" ajak Windya.


Ulis dan Titi saling berpandangan, agak ragu. Ini tidak biasanya Windya berbuat begitu. Dulu-dulu Windya selalu meluncur begitu saja dengan mobil antar jemputnya tanpa mau mengajak siapa pun.


"Nanti kesiangan," kata Windya lagi.


Mau tidak mau akhirnya Ulis dan Titi mau menerima ajakan Windya. Apalagi Windya sudah membuka pintu belakan mobil.


"Kemana saja kalian liburan?" tanya Windya membuka percakapan di dalam mobil.


"Aku liburan di rumah nenekku di Yogya," jawab Titi.


"Kalau aku ke rumah uakku di Cililin dekat Waduk Saguling," giliran Ulis yang menjawab.  "Kamu sendiri pergi ke mana?"


"Ah, aku diajak jalan-jalan ke Danau Toba oleh Omku yang ada di Medan. Nanti di sekolah saja kuceritakan, bagaimana pengalamanku di sana."


Ulis manggut-manggut. Sementara itu Titi masih bingung dengan perubahan sikap Windya.


"Jangan-jangan ada sesuatu yang direncanakan Windya," pikir Titi. Ah, tapi tidak baik berprasangka buruk. Siapa tahu Windya memang sudah berubah setelah liburan panjang.


"Kalian sudah siap dengan pemilihan ketua kelas nanti?" Windya melontarkan pertanyaan lain.


"Kami berdua cuma akan memilih saja."


"Bagaimana pendapat kalian kalau aku mencalonkan diri?" tanya Windya, membuat Ulis dan Titi terkejut.


"Siapa saja berhak mengajukan diri untuk jadi ketua kelas. Cuma hasilnya tunggu saja setelah pemilihan," Ulis menjawab mewakili Titi.


Windya tersenyum kecil. Ia mengambil sesuatu dari tasnya. Dua bungkus coklat yang diambilnya segera disodorkan kepada Ulis dan Titi.


"Kalian tentunya mau memilihku, bukan?" ucap Windya kemudian.


Ulis dan Titi tidak menjawab. Mereka memasukkan coklat pemberian Windya ke dalam tas. Mobil yang mereka tumpangi sudah tiba di pintu gerbang sekolah. Itu berarti mereka harus bergegas turun.


Suasana di kelas baru mereka ternyata sudah ramai. Pagi itu mereka sengaja datang lebih pagi agar dapat mencari tempat duduk seperti apa yang mereka inginkan letaknya. Ulis dan Titi mendapat tempat di bagian tengah. Mereka memang selalu sebangku. Setelah meletakkan tas segera saja mereka bertegur sapa dengan teman-teman yang lain.


"Lihat Windya, dia mau menegur ramah siapa pun!" tunjuk Ulis.


"Biarkan saja. Seharusnya kita bersyukur."


"Dia juga memberikan coklat seperti yang dilakukannya kepada kita. Ah, kurasa dia juga meminta teman-teman kita agar memilihnya menjadi ketua kelas," ujar Ulis cemas.


"Tenang saja. Teman-teman kita tak akan terpengaruh oleh sebungkus coklat. Butuh waktu panjang buat Windya untuk meyakinkan teman-teman kita kalau ia pantas menjadi ketua kelas. Soalnya semua kan tahu bagaimana sifat Windya," hibur Titi.


Bersamaan dengan itu terdengar bunyi bel masuk. Semua sisa kelas lima masuk ke kelas. Beberapa menit kemudian masuk Bu Purwanti, guru Bahasa Indonesia. Dialah yang akan menjadi wali kelas di kelas lima.


Setelah sebentar bercakap-cakap, akhirnya Bu Purwanti memutuskan untuk segera diadakan acara pemilihan ketua kelas. Langsung saja kelas menjadi gaduh. Tiga calon segera diputuskan, Mereka adalah Joko, Andi, dan Windya. Ketiga calon itu terlebih dahulu diminta untuk berbicara di depan kelas sebentar.


"Saya harap teman-teman mau memilih siapa yang paling pantas menjadi ketua kelas," demikian Andi berkata, ia mendapat giliran pertama.


"Sudah dua kali saya menjadi ketua kelas. Dan jika saya terpilih lagi, maka saya akan berusaha lebih baik dari sebelumnya," ucap Joko yang mendapat giliran kedua. Semua bertepuk tangan mendengar kata-kata Joko.


"Seandainya saya terpilih jadi ketua kelas, maka saya akan memimpin kelas ini dengan baik. Kelas ini akan paling menonjol di antara kelas-kelas yang lain," ucap Windya diiringi seruan-seruan gaduh teman-temannya.


Pemilihan pun segera dilakukan. Satu persatu seluruh isi kelas lima memberikan suara mereka untuk memilih siapa dari ketiga calon itu yang berhak menjadi ketua kelas. Hasilnya Joko mengumpulkan suara terbanyak, disusul oleh Andi. Terakhir Windya yang tidak mendapat satu suara pun.


Karuan wajah Windya menjadi pucat. Padahal di rumah tadi ia sudah membayangkan dirinya menjadi ketua kelas. Pikirnya, teman-temannya akan memberikan suara untuknya. Bukankah Windya tadi sudah memberi masing-masing temannya sebungkus coklat?


"Lihat sendiri, Ulis, teman-teman kita sudah tahu kok siapa yang terbaik dan pantas dipilih menjadi ketua kelas," bisik Titi kepada sahabatnya.


Mereka sama-sama tersenyum.


Sumber: Majalah Bobo, no.19 Tahun XVII - 19 Agustus 1989

Kamis, 06 Oktober 2011

PENCURI ITU

Petang selalu indah. Bumi terasa sejuk dan angin bertiup terus-menerus, menyapu rerumputan serta jalanan dan mempermainkan dedaunan. Sinar yang menembus jendela tampak kuning redup, jatuh di dinding dan lantai berbentuk garis-garis, membentuk garis-garis, membentuk bayangan.


JALANAN agak sepi. Biasanya petang ini truk Pak Ampul merangkak pulang dengan derumnya yang kecapaian. Dan biasanya aku suka berlari ke pagar, melambaikan tangan kepada sopir yang berwajah berewokan, letih tapi jenaka.


Pak Ampul hidup hanya berdua dengan istrinya. Mereka tak punya anak. Mungkin karena itu mereka amat sayang kepadaku. Apabila aku bermain ke rumah mereka, Bu Ampul suka menceritakan dongeng yang bagus-bagus. Aku sendiri anak tunggal.


Petang ini sudah bertambah larut, tetapi Pak Ampul belum juga kelihatan. Mama sudah lima kali mondar-mandir dan setiap kali menoleh kepadaku.


"Ada yang kautunggu, Tun?" tanya Mama.


Pertanyaan yang biasa.


"Daripada duduk menganggur, lebih baik kau ambil buku yang dibelikan Papa kemarin."


Aku turun dari kursi dekat jendela, melangkah ke kamar. Kuambil buku bersampul indah itu dari meja. Kemudian aku kembali ketempat semula. Mama telah pergi ke belakang.


Buku yang bagus. Tentang seorang anak yatim piatu yang menjadi masyhur. Betapa sengsara hidupnya, tetapi ia tabah bekerja keras disertai kejujuran. Ketika hampir separuh buku telah kubaca, jendela telah meremang --- langit temaram. Sebelum aku menutup tirai, kutatap ujung jalan yang sudah gelap. Pak Ampul belum muncul juga. Mengapa?


Makan malamku terasa kurang enak.


"Kenapa tidak dihabiskan. Tun?" ujar Mama.


Aku cuma menggeleng.


"Kenapa?"


"Kau, tidak sakit kan, Tun?" tukas Papa.


Lagi-lagi aku cuma menggeleng, diam.


Tiba-tiba kami terdiam. Ada ketukan di pintu.


Papa beranjak ke sana, dan aku di belakangnya. Sedangkan Mama membersihkan piring.


"Oh, Pak Ampul?" kata Papa setelah membuka pintu.


Aku menyelinap di belakang Papa. Ya, Betul itu Pak Ampul. Ia tidak sendirian. Seorang anak yang kurang lebih seumur denganku ada di sampingnya. Anak itu agak hitam, kurus dan kurang bersih kelihatannya. Dan aku merasa pernah melihatnya, tapi dimana?


"Mari masuk, Pak, dan ini?"
Papa bicara dengan nada bingung.


Pak Ampul tertawa. Tampaknya ia hendak mengabarkan sesuatu. Kami pun duduk. Tak lama kemudian Mama ikut duduk.


"Hari ini saya pulang terlambat," kata Pak Ampul memulai pembicaraannya. "Tanpa mobil truk, tetapi bersama Ipu. Ah, ceritanya, siang tadi aku sedang ngebut, maklum udara panas dan aku capek sekali. Eh, ada yang menyeberang jalan dengan berlari. Untung aku masih sempat membanting setir ke kiri. Mobilku rusak sedikit, karena menerobos semak-semak. Si penyeberang yang sembrono itu selamat. Ternyata penyeberang itu seorang anak kecil, anak yang malang."


Suasana hening sejenak. Rupanya tak ada yang berniat memotong cerita Pak Ampul. Sementara itu aku tengah berusaha keras mengingat-ingat dimana aku pernah melihat anak ini.


"Kasihan, ayah ibunya sudah meninggal," lanjut Pak Ampul, "dan Ipu luntang-lantung tanpa kasih sayang. Ah, biarlah truk tua itu mampir di bengkel, asal kami mendapat seorang anak."


"Bu Ampul sudah diberitahu?" tanya Mama.


"Iya, dan sekarang ia sedang menyiapkan kamar buat Ipu."


"Tentu Bu Ampul sangat bahagia," ujar Papa.


"Oho, iya! Dia bilang Ipu cakep sekali!"


Semua tertawa, kecuali aku dan Ipu sendiri. Dan tiba-tiba aku nyaris memekik, karena aku ingat sekarang. Aku pernah melihat dia dipasar, mencuri sepotong roti! Untung dia cuma di jewer oleh si tukang roti. Ah, tetapi ia ditampar satu kali oleh seseorang yang menangkapnya, ketika sedang berlari. Ya, betul, begitulah kejadiannya. Kutatap Ipu tajam-tajam diluar sadar. Dan ternyata Ipu merasakan tatapanku itu berkaca-kaca seolah memohon. Lalu ia terisak-isak.


"Ada apa, Ipu?" tanya Pak Ampul, Mama dan Papa berbareng.


Ipu semakin tersedu.


"Ya, saya mengaku, saya mengaku," katanya.


Lalu ia memandangku. Aku rasa Ipu mengingat kejadian itu, dimana aku mengatakan kepadanya, bahwa mencuri itu perbuatan jahat. Tetapi saya lapar, Kak," katanya padaku.


Untuk memperjelas persoalan, aku menceritakan kejadian tersebut pada Pak Ampul, Papa dan Mama.


"Lupakanlah, Nak," bujuk Pak Ampul sambil memeluknya.


Mama meraih tangan Ipu. Katanya, "Meskipun kau pernah mencuri, tapi kau anak yang jujur. Berbuat salah tak apa-apa, asal tidak diulangi."


Saat itu aku telah sekali, membuatnya bersedih. Aku tercenung diam. Kurasa Mama benar, Ipu anak yang jujur. Ia mencuri semata-mata karena kelaparan.


"Ipu, aku senang ketemu kau lagi," itu saja ucapanku.


Saat itulah muncul Bu Ampul, mengajak suaminya dan Ipu pulang, karena makan malam sudah tersedia.


Source: Majalah Bobo, no.48 - 5 Maret 1988

Minggu, 02 Oktober 2011

PETUNJUK YANG TAK TERDUGA

MUSIBAH ITU menimpa keluarga Serusi di Italia. Malam itu akan diputar film koboi. Oleh karena itu Giovani Serusi, putera sulung keluarga Serusi yang baru berumur 9 tahun, boleh menonton film itu.


Acara sebelum film koboi adalah film dokumenter yang mendemonstrasikan pemijatan jantung oleh seorang dokter kepada seorang yang pingsan.


Ibu Giovani heran sekali melihat Giovani yang begitu tekun mengikuti acara di layar televisi. Tidak seorang pun mengira bahwa seluruh perhatian yang ia curahkan ketika itu akan menolong jiwa ibunya keesokan paginya.


Pagi harinya sebelum berangkat ke sekolah, Giovani mengerjakan soal-soal matematika. Sesudah selesai mengerjakan soal-soal itu, ia memeriksa lagi PR-nya sambil sarapan pagi. Sebab siang nanti ia sudah harus menyerahkan PR-nya itu kepada guru matematikanya.


Sambil memakan rotinya, Giovani berkata kepada ibunya, "Bu, tolong periksa pekerjaanku ini." Tetapi tidak ada jawaban dari ibunya. Ia kemudian mengulangi permintaannya. "Bu, tolong periksa pekerjaan ini sekarang, sebab aku ingin berangkat lebih awal."


Karena kesal. Giovani berteriak sambil menengok ke belakang.


"Bu!" Alangkah terkejutnya Giovani saat itu melihat ibunya duduk dengan mata terbelalak sambil memegang cangkir di tangan kiri dan tangan kanannya memegangi dadanya sebelah kiri. Air mukanya memancarkan perasaan was-was. Akhirnya, ia jatuh dan kejang-kejang.


Ibu Giovani yang bernama Elena Serusi, jatuh tepat di depan kaki putera sulungnya. Giovani yang tadi merasa kesal berubah menjadi panik, ia berteriak,


"Bu, ada apa?"


Dalam kebingungannya, ia mengambil segelas air dan memaksa ibunya untuk minum. Tetapi ibunya tetap diam saja. Muka ibunya tampak putih pucat. Giovani mengira ibunya akan mati.


Kemudian dengan tidak terduga-duga lebih dahulu, terbayang dengan jelas sekali, gambar dokter di televisi kemarin malam yang sedang mendemonstrasikan cara memijit jantung yang sekonyong-konyong berhenti. Giovani segera berpikir, aku harus bertindak juga!


Segera ia menyuruh adiknya menyingkir dan memberi perintah, "Cepat panggil Bibi!"


Dengan cepat sekali tangan-tangan kecil Giovani bergerak memijit-mijit dada ibunya, seperti yang dilakukan oleh dokter di televisi kemarin malam. Selalu mengiang di dalam benaknya kata-kata dokter kemarin malam, "Tekan bagian tengah dada dan lepaskan kembali. Kerjakan itu terus-menerus. Jangan putus asa."


Menit-menit berlalu dengan cepat, tetapi Giovani tanpa merasa lelah sedikit pun terus mengerjakan perintah dokter di televisi kemarin malam. Tetapi ibunya bergerak sedikit pun juga.


Lutut dan pergelangan tangan Giovani sudah mulai gemetar. Sakit rasanya, seperti akan kejang. Namun demikian Giovani tidak berhenti. Ia berpikir, kurasa aku tidak salah memijitnya.


Baru sesudah kurang lebih 20 menit ada gerakan di dada ibunya dan terasa makin lama makin jelas denyut jantung itu. Kemudian terlihatlah ibunya mulai bernapas dengan teratur.


Sebagai putera sulung, walaupun baru berumur 9 tahun, Giovani merasa bertanggung jawab atas keselamatan ibunya. Kembali terngiang-ngiang kata-kata dokter di televisi kemarin malam.


"Walaupun sudah terlihat gerakan jantungnya, tetap harus dibawa ke rumah sakit! Giovani lari menuruni rumahnya sambil berteriak pada bibi dan adiknya yang ia jumpai di tangga.


"Ibu hidup kembali!"


Giovani segera menghentikan mobil yang lewat di depan rumahnya.


"Tolong, Pak, Ibu saya harus segera dibawa ke rumah sakit."


Untunglah Bapak itu mau menolong. Ia lari mengikuti Giovani menaiki tangga rumah. Ibu Giovani diselimuti, lalu dibopong ke mobil.


Dengan satu tangan memegang kemudi mobil dan satu tangannya lagi menekan klakson mobil terus-menerus, bapak itu melarikan mobilnya cepat sekali. Meskipun demikian rasanya lama sekali baru tiba di rumah sakit. Akhirnya mereka sampai di rumah sakit Nuoro di Sardinia. Ibu Giovani diserahkan kepada dokter.


Sekarang perjuangan melawan maut diambil alih oleh para dokter rumah sakit. Giovani duduk di sudut ruan tunggu dengan hati berdebar-debar. Baru sekarang terasa sakit pada lutut dan pergelangan tangannya. Ia merasa kesepian. Pikirnya, saya harus pulang memberi tahu Bibi dan adik-adik serta harus menelepon Ayah yang berada di luar kota. Ya Tuhan, tolonglah ibuku. Sembuhkanlah ibuku. Aku berjanji akan selalu berlaku baik terhadap Ibu dan selalu mengerjakan PR-ku dengan baik."


Bertepatan dengan akhir doa Giovani, keluarlah seorang perawat dari kamar ibunya. Ia menghampiri Giovani sambil berkata lembut.


"Kemungkinan ibumu sembuh besar sekali. Tetapi sekarang kamu harus pulang dan beristirahat. Ibumu masih harus tinggal di rumah sakit beberapa hari lagi. Besok kamu boleh datang lagi menengok ibumu."


Dengan perasaan lega Giovani pulang.


Keesokan harinya Giovani sudah berada di tepi pembaringan ibunya. Ibu Giovani membuka matanya, menyuruh Giovani mendekat. Diciumnya pipi Giovani. Terasa hangat air mata ibunya membasahi pipi Giovani. Giovani mendekap ibunya sambil berkata, 


"Ibu sembuh kembali, bukan?"


Sumber: Majalah Bobo, no.37 - 24 Desember 1988



Rabu, 21 September 2011

KETIKA MENIK HARUS NAIK BUS

ADA mendung pagi-pagi. Bukan di awan tetapi di wajah Menik. Mendung itu tiba-tiba saja meliputi wajah Menik ketika Papa berkata, "Pagi ini kamu naik bus saja, ya. Mobil Papa rusak, jadi tidak bisa mengantarmu ke sekolah."


"Uah! Mana tahan," Menik mengeluh. Hampir saja air mata menitik di pipinya. Apa kata teman-temannya nanti bila melihat dia naik bus? Bukan cuma itu. Naik bus tentu sangat tidak menyenangkan karena harus berdesak-desakan dengan orang banyak. Belum lagi mesti menunggu lama di pemberhentian bus. Huuuh, kenapa sih Papa tidak menukar mobil mereka dengan yang baru saja agar tidak sebentar-sebentar mogok.


"Aduh!"


Menik tersadar ketika dia merasa telah menubruk sesuatu. Rupanya karena jalan sambil melamun dia tidak melihat seorang anak yang sedang menjajakan kuenya.


"Oh, maaf, ya," katanya buru-buru. Lalu dia berjongkok untuk memunguti kue-kue yang jatuh.


"Sayang kuenya sudah kotor. Biar kuganti saja. Berapa harganya?" katanya sambil merogoh tasnya.


"Tidak usah, Nik. Cuma empat buah pisang goreng saja, kok. Dengan teman, berkorban dua ratus tidak apa-apa, kan? Apalagi aku tahu kamu tidak sengaja," kata anak itu buru-buru mencegah Menik.


Menik jadi melongo keheranan karena anak itu ternyata mengenalnya.


"Kamu kok tahu namaku?" tanyanya bingung.


Anak itu tersenyum. "Kita kan teman satu sekolah. Cuma aku di kelas lima A, sedang kamu di kelas lima B," jawabnya.


"Oooo. Maaf, lho. Aku tidak tahu," kata Menik malu. "Jadi kamu tidak sekolah hari ini?"


"Tentu saja sekolah. Aku selalu berjualan kue setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah. Lumayan untuk membiayai sekolahku. Maklum saja, orang tuaku cuma tukang minyak keliling. Tidak seperti ayahmu."


"Ah," Menik jadi malu, karena seolah dituduh sombong oleh anak itu.


"Rumah kamu dimana?" tanyanya.


"Situ. Persis di belakang rumah kamu. Kalau mau ke rumahku harus melewati gang kecil yang ada di samping rumahmu itu."


"Ah, Menik jadi tidak enak hati karena ternyata dia tidak tahu kalau di belakang rumahnya ada rumah teman sekolahnya.


"Kamu sih tidak pernah keluar rumah. Kalau ke sekolah juga selalu diantar jemput dengan mobil. Jadi mana bisa kenal dengan teman-teman yang lain. Padahal di dekat rumah kamu banyak lho teman kita. Tunggu saja lima menit lagi, mereka pasti datang berbondong-bondong ke sini untuk menunggu bus. Bahkan sebagian berjalan kaki. Termasuk juga aku."


"Kamu jalan kaki ke sekolah?" tanya Menik takjub. Bayangkan, jalan kaki sejauh satu kilometer lebih! Dia disuruh jalan kaki dari rumahnya ke tempat perhentian bus ini saja sudah menggerutu sepanjang jalan. Apalagi kalau disuruh jalan kaki ke sekolah. Setiap hari pula. Dan pulang pergi. Uiihhh!!! Mana tahan!!


"Enak lho jalan kaki ramai-ramai. Banyak pemandangan yang dilihat. Bisa tukar pengalaman dengan teman-teman selama dalam perjalanan dan juga membuat badan kita sehat dan tidak malas. Wah, maaf, ya. Aku jadi kebanyakan ngomong. Padahal aku harus buru-buru pulang. Ganti pakaian lalu berangkat ke sekolah," kata anak itu lalu mulai melangkah.


"Hai, aku belum tahu nama kamu!" seru Menik cepat-cepat sebelum anak itu jauh.


"Wiwit!" jawab anak itu. Lalu dia melangkah lagi. 
"Tunggu!" panggil Menik lagi. Terpaksa anak itu menghentikan langkahnya.


"Ada apa lagi?" Nanti aku kesiangan."
"Aku boleh ikut jalan kaki bersama kamu?"


Anak itu tertegun. Kemudian dia bertanya dengan nada tidak percaya. "Kamu mau jalan kaki?"


Menik mengangguk. "Boleh, kan?"


"Boleh saja. Asal kamu tidak mengeluh kecapekan saja. Tunggu aku lima menit lagi!" anak itu lalu berlari meninggalkan Menik yang mulai merasa lega karena pagi ini bisa mendapatkan pengalaman baru. Selama ini dia tahunya cuma duduk di mobil dari rumah hingga ke sekolah. Dia tidak pernah bisa membayangkan bagaimana rasanya berjalan kaki ke sekolah.


Ternyata jalan kaki beramai-ramai menyenangkan sekali. Tidak seperti bila duduk di mobil. Berdiam diri saja selama dalam perjalanan. Sebab tidak ada yang akan diajak ngobrol atau bergurau. Paling-paling Pak Sopir yang bertanya, "Nanti di jemput jam berapa, Neng?"


Oh, dia tidak lagi menyesali Papa karena disuruh naik busb pagi ini. Dia malah bersyukur karena mendapatkan banyak teman hari ini. Baginya hari ini begitu ceria. Penuh senda gurau dan gelak tawa. Menik yang selama ini jarang tertawa, kini ikut-ikutan tertawa, sehingga Wiwit berkata, "Kamu cantik lho kalau sedang tertawa."


Menik jadi kaget dipuji begitu. Dia menghentikan tawanya.


"Iiiih, kamu melebih-lebihkan saja," katanya sambil mencubit tangan Wiwit dengan gemas. "Padahal yang cantik itu kamu, kan?"


"Kalau itu sih dari dulu juga aku tahu. Kalau aku tidak cantik mana mungkin jualan kueku laris. Haa ... haaa ... haaa ..." kata Wiwit tertawa lebar. Nampaknya dia tidak merasa malu sedikit pun karena harus berjualan kue. Dan teman-temannya pun tidak ada yang menganggap Wiwit lebih rendah dari mereka karena Wiwit berjualan kue. Mereka malah meledek Wiwit dengan "Wuayo! Ge-er tuh!!"


Menik merasa mendapat banyak pengalaman pagi ini. Hari yang menyenangkan baginya. Dan satu tekad mulai tertanam di hatinya. Mulai besok aku akan jalan kaki bersama mereka. Nah, selamat jalan kaki, Menik!


Sumber: Majalah Bobo, no. 51 - 1 April 1989

Selasa, 20 September 2011

SURAT UNTUK PAMAN

UNTUK sementara waktu, Ayah harus istirahat. Ia tidak boleh bangun dari ranjangnya. Sedang Ibu nampak begitu repot. Sebab selain merawat Ayah yang sakit, Ibu kini mengganti tugas ayah mencari uang. Untung ada juga ibu-ibu yang menjahitkan pakaiannya pada Ibu. Lalu, Ibu pun lupa menulis surat untuk Paman.


Karena Ibu semakin sibuk dan tak punya waktu sedikitpun untuk menulis surat, maka Dino disuruhnya untuk menulis surat. Dino saat itu baru kelas IV SD. Sekali pun dia belum pernah menulis surat.


"Dino belum mampu, Bu! kata Dino beralasan.


"Semua kan harus di coba, Din! Pekerjaan apa pun sulitnya harus dicoba. Kalau belum apa-apa sudah bilang tak mampu. Bagaimana akhirnya kau bisa menulis surat?" kata Ibu menasihati.


"Kan lebih baik Ibu. Tulisan Dino masih seperti cakar ayam. Nanti kalau Paman tak mengerti kan repot juga!" elak Dino.


"Ibu semakin sibuk, Din! Cobalah, Ibu yakin, Dino bisa," kata Ibu memberi semangat.


Ibunya kemudian memberikan penjelasan mengenai pekerjaannya. Masalah yang ia hadapi dan sebagainya. Dino terdiam. Ia mulai berpikir. Kalau menolak perintah Ibu, tentu kasihan Ibu. Kata Pak Guru, tak baik menolak perintah orang tua.


"Baiklah kalau begitu, Dino akan menulis surat untuk Paman. Tapi bagaimana isi surat itu, Bu?" tanya Dino.


Ibunya yang sedang sibuk menjahit menjawab, "Katakan seperti keadaan kita saat ini ...."


Dino tak lama kemudian sibuk menulis surat. Satu, dua sampai tiga kali dirobeknya surat yang dibuat. Dino tak puas dengan isi surat dibuatnya. Memang tak gampang menulis surat, pikir Dino. Walau demikian ia tak putus asa. Setelah mengalami kegagalan, akhirnya Dino pun berhasil. Ia lega setelah suratnya selesai. Ibu tak perlu repot-repot menulis surat. Sebab pekerjaannya memang banyak menyita waktu.


Selang beberapa hari datang Pak Pos dan Wesel Pos ke rumah Dino. Surat itu balasan dari Paman.


"Bu, Bu .... surat dari Paman!" teriak Dino, memberikan amplop dan selembar wesel pos pada ibunya.


Sesaat ibunya menghentikan pekerjaannya. Setelah membuka amplop dibacanya surat dari paman Dino itu. Betapa ibu Dino tercengang setelah selesai membaca.


"Aduh, Dino ... Dino ..." seru Ibunya, "Kau bilang apa pada pamanmu?" kata Ibu penuh penyesalan.


"Ya, Dino bilang seperti keadaan kita waktu Ayah sakit!" kata Dino polos.


"Ya, ampun!" seru ibunya malu, karena paman Dino mengirim sejumlah uang. Padahal maksud Dino, supaya paman Dino itu datang dan menggantikan pekerjaan Ayah untuk sementara waktu.


"Dino kan tahu, pamanmu lagi menganggur sekarang! Jadi .... tentu saja ia tak punya uang. Dan wesel itu ... 




Bersambung

Sabtu, 10 September 2011

KARIM, JURU MASAK ISTANA

Pak Karim adalah juru masak istana. Ia amat pandai memasak. Masakannya lezat. Raja amat menyukainya.


PADA suatu hari satu perangkat pisau kerajaan hilang. Raja menuduh Pak Karim yang mengambilnya. Sebab, dialah yang bertanggung jawab atas peralatan dapur istana.


"Kenapa kau mengambilnya, Karim?" tuduh Raja.


"Hamba tidak mengambilnya Paduka. Sungguh....." jawab Pak Karim ketakutan.


Raja sudah terlanjur murka. Sebab, pisau itu adalah benda kesayangan istrinya. Raja akan menghukum Pak Karim. Tetapi mengingat jasa Pak Karim, Raja tidak memenjarakannya. Raja hanya mengusir Pak Karim dari istana.


Pak Karim amat sedih. Ia tak berani tinggal di kota. Orang-orang pasti ikut-ikutan menuduhnya sebagai pencuri.


"Kenapa Raja bisa sekejam ini padaku. Raja benar-benar tak mau mempercayai penjelasanku," gumam Pak Karim sedih.


Pak Karim berkelana dalam hutan. Ia makan apa saja yang ada disitu. Buah-buahan dan sayur-sayuran. Beberapa hari kemudian, ia sampai di sebuah sungai. Tepi sungai itu ditumbuhi tanaman bambu yang rimbun. Pak Karim beristirahat di bawahnya. Perutnya mulai lapar. Tetapi, ia tak menemukan sesuatu yang bisa dimakan. Tangannya mencongkel tanah yang gembur di dekatnya. Ia menyentuh batang bambu muda. Ia mengupas kulitnya. Dagingnya berwarna kuning.


"Mungkin bambu muda ini bisa kuolah menjadi makanan," gumamnya.


Pak Karim mulai memasak. Berkat pengalamannya, bambu muda itu dapat diolahnya mejadi sayuran lezat.


Di istana, Raja duduk dengan wajah muram. Ia menyesal telah mengusir Pak Karim. Pak Karim tidak bersalah. Rajalah yang bertindak gegabah. Pisau yang hilang itu sebenarnya telah dihadiahkan kepada seseorang. Raja lupa telah memberikan benda itu. Untuk menebus kesalahannya, Raja memerintahkan pengawal untuk mencari Pak Karim. Tetapi, mereka tidak berhasil menemukan Pak Karim.


Raja rindu pada masakan Pak Karim. Juru masak yang baru tidak sepintar Pak Karim. Raja bosan memakan masakan yang dihidangkan. Karena ingin makan lezat, Raja sampai membuat sayembara memasak. Tetapi, tak seorang pun bisa menandingi keahlian Pak Karim.


Seorang pengawal menghadap tergesa-gesa.


"Paduka, ada restoran baru di kota ini. Masakannya lezat. Lebih-lebih yang disebut sayur rebung. Rakyat amat menyukainya. Mereka sampai antri kalau memesannya," lapor pengawal.


Raja langsung tertarik.


"Panggil juru masak restoran itu ke sini. Perintahkan untuk menghidangkan sayur rebung di istanaku ini," titah Raja.


Tak lama pengawal itu pun kembali. Ia membawa juru masak ke istana. Juru masak segera menyiapkan masakan istimewanya. Sayur rebung.


Raja mencicipi masakan itu.


"Hm, lezat!" seru Raja sambil mencicipinya. "Panggil juru masak itu untuk menghadapku!"


Juru masak muncul di hadapan Raja.


"Kau siapa? Sungguh lezat masakanmu!" puji Raja.


"Terima kasih, Paduka. Hamba gembira, Paduka menyukai masakan saya," ujar juru masak pelan.


Raja seperti pernah mengenal suara itu. Raja lalu mengamati orang itu dengan lebih cermat.


"Karim! Kaukah itu?"teriak Raja gembira.


"Ampun, Paduka. Hamba memang Karim!"


"Tengadahlah, Karim!" perintah Raja.


Pelan-pelan Karim mengangkat kepalanya.


"Karim, maukah kau kembali ke istanaku lagi?" tanya Raja penuh harap.


"Hamba tidak pantas menerima kebaikan Paduka."


"Jangan begitu, Karim. Kau tidak salah. Akulah yang gegabah. Aku menuduhmu tanpa mencari bukti terlebih dahulu. Kumohon, tinggallah di istanaku lagi," pinta Raja.


Pak Karim terharu mendengar pengakuan Raja. Ia tak tega menolak kebaikan Raja. Sejak saat itu, Pak Karim menjadi juru masak istana lagi. Dan, sayur rebung penemuannya amat disukai oleh Raja dan rakyatnya.


Sumber: Majalah Bobo, no.19 Tahun XVII - 19 Agustus 1989

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | 100 Web Hosting