Sabtu, 05 November 2011

GARA-GARA SAKIT GIGI

Dokter Rosarito sedang menaikkan tirai jendela ruang prakteknya, ketika tiba-tiba ada seorang pria membuka pintu dengan kasar. Pria bertubuh tinggi besar dengan wajah brewok, berdiri di ambang pintu. Lelaki itu ternyata seorang penjahat paling berbahaya di kota Roma.


SAYA ingin berobat, Dok. Gigi saya sakit sekali! Sekarang juga Dokter harus merawat gigi saya. Saya akan membayar tinggi untuk Anda," kata pria itu sambil memegang salah satu pipinya yang bengkak. Sesaat sang Dokter memperhatikan wajah pria di hadapannya, kemudian katanya, "Maaf, tetapi Anda harus menunggu ...."


"Jangan biarkan saya menunggu, Dokter!" katanya cepat. Salah satu tangannya merogoh saku jas. Sesaat kemudian ia mengeluarkan sepucuk pistol. "Saya tak ingin membuat kesulitan pada Anda," katanya dengan sorot mata tajam. "Tetapi jika terpaksa ..."


"Anda akan membunuhku? Seperti yang Anda lakukan terhadap dokter penjara, Saudara Camulpo?" sahut Dokter Wanita itu.


Pria itu nampak terkejut.


"Jadi Anda telah mengenalku, Dokter?"


"Ya. Wajah Anda terpampang di halaman surat kabar di kota ini. Dan Anda melarikan setelah membunuh dokter penjara," kata sang Dokter berusaha tetap tenang.


"Baiklah, itu memang benar," kata Camulpo kemudian. "Kupikir ada baiknya Anda mengetahui siapa diriku ini. Sekarang, bersiaplah untuk mencabut gigiku. Aduh ... Aduh ..."


Dokter Rosarito berdiri tanpa melakukan sesuatu yang diminta penjahat itu. Sebenarnya ia merasa iba melihatnya. Tetapi, bila ia mengingat, bahwa orang yang dihadapannya itu penjahat yang berbahaya bagi penduduk kota Roma, maka ia memendam perasaan itu.


"Mengapa Anda hanya berdiri saja?" bentak Camulpo. "Cepat kerjakan perintahku!" Pistolnya ditodongkan ke arah dada sang Dokter.


Sang Dokter hanya tersenyum, kemudian mulai menyiapkan peralatan prakteknya. Sementara Camulpo mengikuti gerak-gerik sang Dokter dengan ujung laras pistolnya.


"Silakan Anda duduk disini," kata sang Dokter sambil memegang jarum suntik. "Anda akan saya suntik dahulu, agar sakit giginya hilang. Kemudian saya akan mencabut gigi Anda."


Dengan patuh Camulpo menuruti perintah Dokter Rosarito. Namun, pistolnya tetap ditujukan ke dada sang Dokter. Sementara sakit giginya sudah mulai hilang. Ya, Camulpo merasa giginya sudah tak sakit lagi.


"Nah, sekarang berbaringlah di sana," kata sang Dokter sambil menunjuk ke arah tempat tidur kecil, yang terletak di ruangan dalam. "Saya akan mempersiapkan alat-alat untuk mencabut gigi Anda."


Camulpo tersenyum senang, ketika melihat tempat tidur kecil itu. Nampaknya sangat nyaman, bila ditiduri. Selama sekian tahun Camulpo mendekam di penjara, tak pernah ia melihat tempat tidur yang begitu bersih, rapi dan empuk. Dan tentu saja ia tak menolak membaringkan tubuhnya di sana.


"Saya sudah siap, Dok," katanya sambil tersenyum senang. Pistolnya kemudian dimasukkan kedalam saku jas. Dokter Rosarito telah siap dengan alat pencabut gigi.


"Tetapi agak sedikit sakit," kata sang Dokter. "Karena itu Anda akan saya ikat, agar saya bisa bekerja dengan baik."


Mendengar ucapan sang Dokter, Camulpo menjadi berang kembali.


"Apa? katanya. "Jangan coba-coba menipuku, Dokter! Saya tahu Anda akan menyerahkan diri saya, jika saya sudah terikat. Cepat! Kerjakan tugas Anda! 
Saya tak akan berontak, hanya karena gigi saya dicabut. Mengerti!" kemudian Camulpo membaringkan diri kembali. "Ayo, cepat cabut gigi saya!"


Dan ia rupanya tak merasa sakit, ketika giginya sungguh-sungguh dicabut. Bahkan ia tetap berbaring tenang, hingga akhirnya tertidur. Dengan tenang, tanpa terburu-buru Dokter Rosarito membereskan peralatan prakteknya. Kemudian ia mengangkat telepon, yang terletak di atas meja kerjanya.


"Halo, di sini Dokter Rosarito. Harap segera datang kemari dengan ... Apa? Tidak usah banyak-banyak! Cukup satu atau dua orang saja. Ia sama sekali tidak berbahaya. Ya, ia sedang tidur nyenyak dan mungkin sedang bermimpi. Ia sudah kubius tadi. Terima kasih."


Beberapa saat kemudian, terdengar sirene mobil polisi datang. Dua perwira polisi muncul di ambang pintu. Mereka memperkenalkan diri sebagai petugas yang dikirim untuk menangkap buronan berbahaya itu. Dan mereka membawa Camulpo tanpa perlawanan sedikit pun. Sementara Dokter Rosarito memperhatikan mereka dengan perasaan lega. Tapi ia begitu ketakutan menghadapi Camulpo. Namun, ia berusaha tenang, hingga menemukan cara yang membuat si penjahat tak berdaya. Ya, seorang dokter pun bisa menangkap seorang penjahat tak berdaya. Ya, seorang dokter pun bisa menangkap seorang penjahat berbahaya dengan cara yang cukup sederhana.


Source: Majalah Bobo no. 50 - 19 Maret 1988

Kamis, 20 Oktober 2011

MEREKA MAU MEMAAFKAN

SEDIH sekali rasanya bila tidak punya teman. Hal seperti ini yang sedang dirasakan oleh Doni saat ini.


Di depan rumahnya, Doni sedang memperhatikan teman-temannya yang asyik bermain. Di halaman rumah Iwan sekelompok anak sedang bermain kelereng. Sesekali terdengar teriakan dan tawa mereka. Apalagi teriakan yang keluar dari mulut Agil. Anak ini memang periang sekali. Kalau bermain suka sekali melucu. Ini yang membuat teman-temannya senang padanya. Rasanya kalau tidak ada Agil permainan apapun jadi tidak seru.


Selain Agil dan Iwan, tampak juga Madi, Dian, Joko dan Arief.


Jarak antara rumah Doni dan rumah Iwan tidak terlalu jauh. Jarak yang berdekatan ini, membuat Doni dapat melihat dengan jelas kesibukan teman-temannya.


Doni menghela napas panjang. Ingin sekali ia ikut bermain bersama teman-temannya itu. Tetapi ia malu, karena kemarin baru saja ia berkelahi dengan Arief.


Waktu itu mereka sedang main kelereng. Arief menang. Tidak seperti biasanya, kali ini Doni kalah. Sejak kekalahan pertama, permainan Doni semakin kacau. Dengan gaya yang kocak Agil berkata, "Wah Arief hebat, nih. Yahut! Sekarang sih Doni nggak ada apa-apanya." Anak-anak yang lain tertawa.


Doni merasa semua mengolok-ngolok dirinya. Dengan cepat kemarahan Doni terpancing.


Suatu saat, ketika Arief mendapat giliran membidik, Doni dengan sengaja menahan kelereng Arief dengan kakinya. Tentu saja kelereng Arief tidak dapat mengenai sasarannya. Terjadilah pertengkaran kecil yang diakhiri dengan perkelahian. Doni pula yang memulai perkelahian itu. Anak-anak yang lain berusaha melerai.


"Kamu kok pemarah sekali sih, Don," kata Iwan.


"Jangan begitu dong Don, ini kan hanya permainan saja. Menang atau kalah sama saja. Kita kan sama-sama kawan," kata Dian menyatakan ketidaksenangan teman-temannya pada Doni.


Doni dalam tiap permainan memang dikenal selalu mau menang sendiri. Kini ia berdiri sendirian di pagar halaman rumahnya. Matanya menatap kosong ke depan. Ditahannya sekali lagi keinginannya untuk ikut bergabung bersama teman-temannya. Selain malu, ia juga takut kalau-kalau nanti teman-temannya akan mengusirnya bila ia datang.


Kini Doni menyadari kekeliruannya. Ia tahu kini bahwa ia tidak bisa bermain sendiri. Ia sadar bahwa ia membutuhkan teman-temannya.


Ia tahu juga, bahwa sifatnya yang pemarah dan selalu mau menang sendiri sangat merugikan dirinya sendiri.


"Hei Don. Sedang apa kau?" tanya Iwan tiba-tiba.


"Jangan suka melamun, nanti cepat tua," kata Agil. Semua anak tertawa.


Doni seperti tidak percaya pada penglihatannya sendiri. Di hadapannya sudah lengkap teman-temannya yang tadi sedang bermain kelereng.


Arief maju ke depan, lalu mengulurkan tangannya.


"Maafkan aku, Doni. Kita lupakan saja peristiwa kemarin."


"Seharusnya akulah yang minta maaf pada kalian. Terutama padamu Arief," jawab Doni menahan keharuan.


"Untuk persahabatan kita semua, ayo kita ke lapangan. Kita rayakan dengan main bola sama-sama," kata Joko bersemangat. Di tangannya sudah ada sebuah bola kaki. Yang lain mengikutinya berjalan menuju lapangan.


Agil menarik tangan Doni. Seperti robot, Doni mengikuti teman-temannya.


Hati Doni terenyuh. Tak disangka teman-temannya begitu baik padanya. Tidak ada rasa dendam sedikitpun. Ia kemudian memarahi dirinya sendiri yang tadi tidak berani datang meminta maaf terlebih dahulu. Saat itu pula, Doni berjanji akan menjadi teman yang baik bagi siapa saja.


Sumber: Majalah Bobo no.42 - 28 Januari 1989

Sabtu, 15 Oktober 2011

KETUA KELAS

Ulis dan Titi berjalan menyusuri sisi jalan. Hari ini adalah hari pertama mereka masuk sekolah kembali setelah liburan panjang. Itulah yang membuat mereka berangkat agak pagi, biar cepat tiba di sekolah.


MENYENANGKAN sekali akhirnya kita bisa berkumpul lagi dengan teman-teman," gumam Ulis.


"Tentu saja. Dan semoga di kelas lima ini suasananya akan bertambah menyenangkan. Kelas baru, wali kelas baru, dan ketua kelas baru," timpal Titi seraya tersenyum.


"Ketua kelas baru? Ah, aku lebih senang kalau Joko tetap menjadi ketua kelas. Waktu kelas empat kan dia menjalankan tugasnya sebagai ketua kelas dengan baik," sergah Ulis. "Ti, apakah kamu berminat mencalonkan diri menjadi ketua kelas?"


Titi tertawa kecil mendengar pertanyaan sahabatnya. "Tidak. Masih banyak teman kita yang lebih baik dari aku. Asal tidak Windya saja yang menjadi ketua kelas," jawab Titi kemudian.


"Aku akan memilihnya kalau saja ia bisa menghilangkan kebiasaan buruknya. Kebiasaan yang ingin menang sendiri dan sombong itu ...."


Ucapan ulis terputus karena tiba-tiba sebuah sedan berwarna putih berhenti mendadak di dekat mereka. Seraut wajah muncul dari jendela pintu mobil. Itu wajah Windya yang baru saja mereka bicarakan.


"Hei, kalian, ikut mobilku saja!" ajak Windya.


Ulis dan Titi saling berpandangan, agak ragu. Ini tidak biasanya Windya berbuat begitu. Dulu-dulu Windya selalu meluncur begitu saja dengan mobil antar jemputnya tanpa mau mengajak siapa pun.


"Nanti kesiangan," kata Windya lagi.


Mau tidak mau akhirnya Ulis dan Titi mau menerima ajakan Windya. Apalagi Windya sudah membuka pintu belakan mobil.


"Kemana saja kalian liburan?" tanya Windya membuka percakapan di dalam mobil.


"Aku liburan di rumah nenekku di Yogya," jawab Titi.


"Kalau aku ke rumah uakku di Cililin dekat Waduk Saguling," giliran Ulis yang menjawab.  "Kamu sendiri pergi ke mana?"


"Ah, aku diajak jalan-jalan ke Danau Toba oleh Omku yang ada di Medan. Nanti di sekolah saja kuceritakan, bagaimana pengalamanku di sana."


Ulis manggut-manggut. Sementara itu Titi masih bingung dengan perubahan sikap Windya.


"Jangan-jangan ada sesuatu yang direncanakan Windya," pikir Titi. Ah, tapi tidak baik berprasangka buruk. Siapa tahu Windya memang sudah berubah setelah liburan panjang.


"Kalian sudah siap dengan pemilihan ketua kelas nanti?" Windya melontarkan pertanyaan lain.


"Kami berdua cuma akan memilih saja."


"Bagaimana pendapat kalian kalau aku mencalonkan diri?" tanya Windya, membuat Ulis dan Titi terkejut.


"Siapa saja berhak mengajukan diri untuk jadi ketua kelas. Cuma hasilnya tunggu saja setelah pemilihan," Ulis menjawab mewakili Titi.


Windya tersenyum kecil. Ia mengambil sesuatu dari tasnya. Dua bungkus coklat yang diambilnya segera disodorkan kepada Ulis dan Titi.


"Kalian tentunya mau memilihku, bukan?" ucap Windya kemudian.


Ulis dan Titi tidak menjawab. Mereka memasukkan coklat pemberian Windya ke dalam tas. Mobil yang mereka tumpangi sudah tiba di pintu gerbang sekolah. Itu berarti mereka harus bergegas turun.


Suasana di kelas baru mereka ternyata sudah ramai. Pagi itu mereka sengaja datang lebih pagi agar dapat mencari tempat duduk seperti apa yang mereka inginkan letaknya. Ulis dan Titi mendapat tempat di bagian tengah. Mereka memang selalu sebangku. Setelah meletakkan tas segera saja mereka bertegur sapa dengan teman-teman yang lain.


"Lihat Windya, dia mau menegur ramah siapa pun!" tunjuk Ulis.


"Biarkan saja. Seharusnya kita bersyukur."


"Dia juga memberikan coklat seperti yang dilakukannya kepada kita. Ah, kurasa dia juga meminta teman-teman kita agar memilihnya menjadi ketua kelas," ujar Ulis cemas.


"Tenang saja. Teman-teman kita tak akan terpengaruh oleh sebungkus coklat. Butuh waktu panjang buat Windya untuk meyakinkan teman-teman kita kalau ia pantas menjadi ketua kelas. Soalnya semua kan tahu bagaimana sifat Windya," hibur Titi.


Bersamaan dengan itu terdengar bunyi bel masuk. Semua sisa kelas lima masuk ke kelas. Beberapa menit kemudian masuk Bu Purwanti, guru Bahasa Indonesia. Dialah yang akan menjadi wali kelas di kelas lima.


Setelah sebentar bercakap-cakap, akhirnya Bu Purwanti memutuskan untuk segera diadakan acara pemilihan ketua kelas. Langsung saja kelas menjadi gaduh. Tiga calon segera diputuskan, Mereka adalah Joko, Andi, dan Windya. Ketiga calon itu terlebih dahulu diminta untuk berbicara di depan kelas sebentar.


"Saya harap teman-teman mau memilih siapa yang paling pantas menjadi ketua kelas," demikian Andi berkata, ia mendapat giliran pertama.


"Sudah dua kali saya menjadi ketua kelas. Dan jika saya terpilih lagi, maka saya akan berusaha lebih baik dari sebelumnya," ucap Joko yang mendapat giliran kedua. Semua bertepuk tangan mendengar kata-kata Joko.


"Seandainya saya terpilih jadi ketua kelas, maka saya akan memimpin kelas ini dengan baik. Kelas ini akan paling menonjol di antara kelas-kelas yang lain," ucap Windya diiringi seruan-seruan gaduh teman-temannya.


Pemilihan pun segera dilakukan. Satu persatu seluruh isi kelas lima memberikan suara mereka untuk memilih siapa dari ketiga calon itu yang berhak menjadi ketua kelas. Hasilnya Joko mengumpulkan suara terbanyak, disusul oleh Andi. Terakhir Windya yang tidak mendapat satu suara pun.


Karuan wajah Windya menjadi pucat. Padahal di rumah tadi ia sudah membayangkan dirinya menjadi ketua kelas. Pikirnya, teman-temannya akan memberikan suara untuknya. Bukankah Windya tadi sudah memberi masing-masing temannya sebungkus coklat?


"Lihat sendiri, Ulis, teman-teman kita sudah tahu kok siapa yang terbaik dan pantas dipilih menjadi ketua kelas," bisik Titi kepada sahabatnya.


Mereka sama-sama tersenyum.


Sumber: Majalah Bobo, no.19 Tahun XVII - 19 Agustus 1989

Kamis, 06 Oktober 2011

PENCURI ITU

Petang selalu indah. Bumi terasa sejuk dan angin bertiup terus-menerus, menyapu rerumputan serta jalanan dan mempermainkan dedaunan. Sinar yang menembus jendela tampak kuning redup, jatuh di dinding dan lantai berbentuk garis-garis, membentuk garis-garis, membentuk bayangan.


JALANAN agak sepi. Biasanya petang ini truk Pak Ampul merangkak pulang dengan derumnya yang kecapaian. Dan biasanya aku suka berlari ke pagar, melambaikan tangan kepada sopir yang berwajah berewokan, letih tapi jenaka.


Pak Ampul hidup hanya berdua dengan istrinya. Mereka tak punya anak. Mungkin karena itu mereka amat sayang kepadaku. Apabila aku bermain ke rumah mereka, Bu Ampul suka menceritakan dongeng yang bagus-bagus. Aku sendiri anak tunggal.


Petang ini sudah bertambah larut, tetapi Pak Ampul belum juga kelihatan. Mama sudah lima kali mondar-mandir dan setiap kali menoleh kepadaku.


"Ada yang kautunggu, Tun?" tanya Mama.


Pertanyaan yang biasa.


"Daripada duduk menganggur, lebih baik kau ambil buku yang dibelikan Papa kemarin."


Aku turun dari kursi dekat jendela, melangkah ke kamar. Kuambil buku bersampul indah itu dari meja. Kemudian aku kembali ketempat semula. Mama telah pergi ke belakang.


Buku yang bagus. Tentang seorang anak yatim piatu yang menjadi masyhur. Betapa sengsara hidupnya, tetapi ia tabah bekerja keras disertai kejujuran. Ketika hampir separuh buku telah kubaca, jendela telah meremang --- langit temaram. Sebelum aku menutup tirai, kutatap ujung jalan yang sudah gelap. Pak Ampul belum muncul juga. Mengapa?


Makan malamku terasa kurang enak.


"Kenapa tidak dihabiskan. Tun?" ujar Mama.


Aku cuma menggeleng.


"Kenapa?"


"Kau, tidak sakit kan, Tun?" tukas Papa.


Lagi-lagi aku cuma menggeleng, diam.


Tiba-tiba kami terdiam. Ada ketukan di pintu.


Papa beranjak ke sana, dan aku di belakangnya. Sedangkan Mama membersihkan piring.


"Oh, Pak Ampul?" kata Papa setelah membuka pintu.


Aku menyelinap di belakang Papa. Ya, Betul itu Pak Ampul. Ia tidak sendirian. Seorang anak yang kurang lebih seumur denganku ada di sampingnya. Anak itu agak hitam, kurus dan kurang bersih kelihatannya. Dan aku merasa pernah melihatnya, tapi dimana?


"Mari masuk, Pak, dan ini?"
Papa bicara dengan nada bingung.


Pak Ampul tertawa. Tampaknya ia hendak mengabarkan sesuatu. Kami pun duduk. Tak lama kemudian Mama ikut duduk.


"Hari ini saya pulang terlambat," kata Pak Ampul memulai pembicaraannya. "Tanpa mobil truk, tetapi bersama Ipu. Ah, ceritanya, siang tadi aku sedang ngebut, maklum udara panas dan aku capek sekali. Eh, ada yang menyeberang jalan dengan berlari. Untung aku masih sempat membanting setir ke kiri. Mobilku rusak sedikit, karena menerobos semak-semak. Si penyeberang yang sembrono itu selamat. Ternyata penyeberang itu seorang anak kecil, anak yang malang."


Suasana hening sejenak. Rupanya tak ada yang berniat memotong cerita Pak Ampul. Sementara itu aku tengah berusaha keras mengingat-ingat dimana aku pernah melihat anak ini.


"Kasihan, ayah ibunya sudah meninggal," lanjut Pak Ampul, "dan Ipu luntang-lantung tanpa kasih sayang. Ah, biarlah truk tua itu mampir di bengkel, asal kami mendapat seorang anak."


"Bu Ampul sudah diberitahu?" tanya Mama.


"Iya, dan sekarang ia sedang menyiapkan kamar buat Ipu."


"Tentu Bu Ampul sangat bahagia," ujar Papa.


"Oho, iya! Dia bilang Ipu cakep sekali!"


Semua tertawa, kecuali aku dan Ipu sendiri. Dan tiba-tiba aku nyaris memekik, karena aku ingat sekarang. Aku pernah melihat dia dipasar, mencuri sepotong roti! Untung dia cuma di jewer oleh si tukang roti. Ah, tetapi ia ditampar satu kali oleh seseorang yang menangkapnya, ketika sedang berlari. Ya, betul, begitulah kejadiannya. Kutatap Ipu tajam-tajam diluar sadar. Dan ternyata Ipu merasakan tatapanku itu berkaca-kaca seolah memohon. Lalu ia terisak-isak.


"Ada apa, Ipu?" tanya Pak Ampul, Mama dan Papa berbareng.


Ipu semakin tersedu.


"Ya, saya mengaku, saya mengaku," katanya.


Lalu ia memandangku. Aku rasa Ipu mengingat kejadian itu, dimana aku mengatakan kepadanya, bahwa mencuri itu perbuatan jahat. Tetapi saya lapar, Kak," katanya padaku.


Untuk memperjelas persoalan, aku menceritakan kejadian tersebut pada Pak Ampul, Papa dan Mama.


"Lupakanlah, Nak," bujuk Pak Ampul sambil memeluknya.


Mama meraih tangan Ipu. Katanya, "Meskipun kau pernah mencuri, tapi kau anak yang jujur. Berbuat salah tak apa-apa, asal tidak diulangi."


Saat itu aku telah sekali, membuatnya bersedih. Aku tercenung diam. Kurasa Mama benar, Ipu anak yang jujur. Ia mencuri semata-mata karena kelaparan.


"Ipu, aku senang ketemu kau lagi," itu saja ucapanku.


Saat itulah muncul Bu Ampul, mengajak suaminya dan Ipu pulang, karena makan malam sudah tersedia.


Source: Majalah Bobo, no.48 - 5 Maret 1988

Minggu, 02 Oktober 2011

PETUNJUK YANG TAK TERDUGA

MUSIBAH ITU menimpa keluarga Serusi di Italia. Malam itu akan diputar film koboi. Oleh karena itu Giovani Serusi, putera sulung keluarga Serusi yang baru berumur 9 tahun, boleh menonton film itu.


Acara sebelum film koboi adalah film dokumenter yang mendemonstrasikan pemijatan jantung oleh seorang dokter kepada seorang yang pingsan.


Ibu Giovani heran sekali melihat Giovani yang begitu tekun mengikuti acara di layar televisi. Tidak seorang pun mengira bahwa seluruh perhatian yang ia curahkan ketika itu akan menolong jiwa ibunya keesokan paginya.


Pagi harinya sebelum berangkat ke sekolah, Giovani mengerjakan soal-soal matematika. Sesudah selesai mengerjakan soal-soal itu, ia memeriksa lagi PR-nya sambil sarapan pagi. Sebab siang nanti ia sudah harus menyerahkan PR-nya itu kepada guru matematikanya.


Sambil memakan rotinya, Giovani berkata kepada ibunya, "Bu, tolong periksa pekerjaanku ini." Tetapi tidak ada jawaban dari ibunya. Ia kemudian mengulangi permintaannya. "Bu, tolong periksa pekerjaan ini sekarang, sebab aku ingin berangkat lebih awal."


Karena kesal. Giovani berteriak sambil menengok ke belakang.


"Bu!" Alangkah terkejutnya Giovani saat itu melihat ibunya duduk dengan mata terbelalak sambil memegang cangkir di tangan kiri dan tangan kanannya memegangi dadanya sebelah kiri. Air mukanya memancarkan perasaan was-was. Akhirnya, ia jatuh dan kejang-kejang.


Ibu Giovani yang bernama Elena Serusi, jatuh tepat di depan kaki putera sulungnya. Giovani yang tadi merasa kesal berubah menjadi panik, ia berteriak,


"Bu, ada apa?"


Dalam kebingungannya, ia mengambil segelas air dan memaksa ibunya untuk minum. Tetapi ibunya tetap diam saja. Muka ibunya tampak putih pucat. Giovani mengira ibunya akan mati.


Kemudian dengan tidak terduga-duga lebih dahulu, terbayang dengan jelas sekali, gambar dokter di televisi kemarin malam yang sedang mendemonstrasikan cara memijit jantung yang sekonyong-konyong berhenti. Giovani segera berpikir, aku harus bertindak juga!


Segera ia menyuruh adiknya menyingkir dan memberi perintah, "Cepat panggil Bibi!"


Dengan cepat sekali tangan-tangan kecil Giovani bergerak memijit-mijit dada ibunya, seperti yang dilakukan oleh dokter di televisi kemarin malam. Selalu mengiang di dalam benaknya kata-kata dokter kemarin malam, "Tekan bagian tengah dada dan lepaskan kembali. Kerjakan itu terus-menerus. Jangan putus asa."


Menit-menit berlalu dengan cepat, tetapi Giovani tanpa merasa lelah sedikit pun terus mengerjakan perintah dokter di televisi kemarin malam. Tetapi ibunya bergerak sedikit pun juga.


Lutut dan pergelangan tangan Giovani sudah mulai gemetar. Sakit rasanya, seperti akan kejang. Namun demikian Giovani tidak berhenti. Ia berpikir, kurasa aku tidak salah memijitnya.


Baru sesudah kurang lebih 20 menit ada gerakan di dada ibunya dan terasa makin lama makin jelas denyut jantung itu. Kemudian terlihatlah ibunya mulai bernapas dengan teratur.


Sebagai putera sulung, walaupun baru berumur 9 tahun, Giovani merasa bertanggung jawab atas keselamatan ibunya. Kembali terngiang-ngiang kata-kata dokter di televisi kemarin malam.


"Walaupun sudah terlihat gerakan jantungnya, tetap harus dibawa ke rumah sakit! Giovani lari menuruni rumahnya sambil berteriak pada bibi dan adiknya yang ia jumpai di tangga.


"Ibu hidup kembali!"


Giovani segera menghentikan mobil yang lewat di depan rumahnya.


"Tolong, Pak, Ibu saya harus segera dibawa ke rumah sakit."


Untunglah Bapak itu mau menolong. Ia lari mengikuti Giovani menaiki tangga rumah. Ibu Giovani diselimuti, lalu dibopong ke mobil.


Dengan satu tangan memegang kemudi mobil dan satu tangannya lagi menekan klakson mobil terus-menerus, bapak itu melarikan mobilnya cepat sekali. Meskipun demikian rasanya lama sekali baru tiba di rumah sakit. Akhirnya mereka sampai di rumah sakit Nuoro di Sardinia. Ibu Giovani diserahkan kepada dokter.


Sekarang perjuangan melawan maut diambil alih oleh para dokter rumah sakit. Giovani duduk di sudut ruan tunggu dengan hati berdebar-debar. Baru sekarang terasa sakit pada lutut dan pergelangan tangannya. Ia merasa kesepian. Pikirnya, saya harus pulang memberi tahu Bibi dan adik-adik serta harus menelepon Ayah yang berada di luar kota. Ya Tuhan, tolonglah ibuku. Sembuhkanlah ibuku. Aku berjanji akan selalu berlaku baik terhadap Ibu dan selalu mengerjakan PR-ku dengan baik."


Bertepatan dengan akhir doa Giovani, keluarlah seorang perawat dari kamar ibunya. Ia menghampiri Giovani sambil berkata lembut.


"Kemungkinan ibumu sembuh besar sekali. Tetapi sekarang kamu harus pulang dan beristirahat. Ibumu masih harus tinggal di rumah sakit beberapa hari lagi. Besok kamu boleh datang lagi menengok ibumu."


Dengan perasaan lega Giovani pulang.


Keesokan harinya Giovani sudah berada di tepi pembaringan ibunya. Ibu Giovani membuka matanya, menyuruh Giovani mendekat. Diciumnya pipi Giovani. Terasa hangat air mata ibunya membasahi pipi Giovani. Giovani mendekap ibunya sambil berkata, 


"Ibu sembuh kembali, bukan?"


Sumber: Majalah Bobo, no.37 - 24 Desember 1988



Rabu, 21 September 2011

KETIKA MENIK HARUS NAIK BUS

ADA mendung pagi-pagi. Bukan di awan tetapi di wajah Menik. Mendung itu tiba-tiba saja meliputi wajah Menik ketika Papa berkata, "Pagi ini kamu naik bus saja, ya. Mobil Papa rusak, jadi tidak bisa mengantarmu ke sekolah."


"Uah! Mana tahan," Menik mengeluh. Hampir saja air mata menitik di pipinya. Apa kata teman-temannya nanti bila melihat dia naik bus? Bukan cuma itu. Naik bus tentu sangat tidak menyenangkan karena harus berdesak-desakan dengan orang banyak. Belum lagi mesti menunggu lama di pemberhentian bus. Huuuh, kenapa sih Papa tidak menukar mobil mereka dengan yang baru saja agar tidak sebentar-sebentar mogok.


"Aduh!"


Menik tersadar ketika dia merasa telah menubruk sesuatu. Rupanya karena jalan sambil melamun dia tidak melihat seorang anak yang sedang menjajakan kuenya.


"Oh, maaf, ya," katanya buru-buru. Lalu dia berjongkok untuk memunguti kue-kue yang jatuh.


"Sayang kuenya sudah kotor. Biar kuganti saja. Berapa harganya?" katanya sambil merogoh tasnya.


"Tidak usah, Nik. Cuma empat buah pisang goreng saja, kok. Dengan teman, berkorban dua ratus tidak apa-apa, kan? Apalagi aku tahu kamu tidak sengaja," kata anak itu buru-buru mencegah Menik.


Menik jadi melongo keheranan karena anak itu ternyata mengenalnya.


"Kamu kok tahu namaku?" tanyanya bingung.


Anak itu tersenyum. "Kita kan teman satu sekolah. Cuma aku di kelas lima A, sedang kamu di kelas lima B," jawabnya.


"Oooo. Maaf, lho. Aku tidak tahu," kata Menik malu. "Jadi kamu tidak sekolah hari ini?"


"Tentu saja sekolah. Aku selalu berjualan kue setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah. Lumayan untuk membiayai sekolahku. Maklum saja, orang tuaku cuma tukang minyak keliling. Tidak seperti ayahmu."


"Ah," Menik jadi malu, karena seolah dituduh sombong oleh anak itu.


"Rumah kamu dimana?" tanyanya.


"Situ. Persis di belakang rumah kamu. Kalau mau ke rumahku harus melewati gang kecil yang ada di samping rumahmu itu."


"Ah, Menik jadi tidak enak hati karena ternyata dia tidak tahu kalau di belakang rumahnya ada rumah teman sekolahnya.


"Kamu sih tidak pernah keluar rumah. Kalau ke sekolah juga selalu diantar jemput dengan mobil. Jadi mana bisa kenal dengan teman-teman yang lain. Padahal di dekat rumah kamu banyak lho teman kita. Tunggu saja lima menit lagi, mereka pasti datang berbondong-bondong ke sini untuk menunggu bus. Bahkan sebagian berjalan kaki. Termasuk juga aku."


"Kamu jalan kaki ke sekolah?" tanya Menik takjub. Bayangkan, jalan kaki sejauh satu kilometer lebih! Dia disuruh jalan kaki dari rumahnya ke tempat perhentian bus ini saja sudah menggerutu sepanjang jalan. Apalagi kalau disuruh jalan kaki ke sekolah. Setiap hari pula. Dan pulang pergi. Uiihhh!!! Mana tahan!!


"Enak lho jalan kaki ramai-ramai. Banyak pemandangan yang dilihat. Bisa tukar pengalaman dengan teman-teman selama dalam perjalanan dan juga membuat badan kita sehat dan tidak malas. Wah, maaf, ya. Aku jadi kebanyakan ngomong. Padahal aku harus buru-buru pulang. Ganti pakaian lalu berangkat ke sekolah," kata anak itu lalu mulai melangkah.


"Hai, aku belum tahu nama kamu!" seru Menik cepat-cepat sebelum anak itu jauh.


"Wiwit!" jawab anak itu. Lalu dia melangkah lagi. 
"Tunggu!" panggil Menik lagi. Terpaksa anak itu menghentikan langkahnya.


"Ada apa lagi?" Nanti aku kesiangan."
"Aku boleh ikut jalan kaki bersama kamu?"


Anak itu tertegun. Kemudian dia bertanya dengan nada tidak percaya. "Kamu mau jalan kaki?"


Menik mengangguk. "Boleh, kan?"


"Boleh saja. Asal kamu tidak mengeluh kecapekan saja. Tunggu aku lima menit lagi!" anak itu lalu berlari meninggalkan Menik yang mulai merasa lega karena pagi ini bisa mendapatkan pengalaman baru. Selama ini dia tahunya cuma duduk di mobil dari rumah hingga ke sekolah. Dia tidak pernah bisa membayangkan bagaimana rasanya berjalan kaki ke sekolah.


Ternyata jalan kaki beramai-ramai menyenangkan sekali. Tidak seperti bila duduk di mobil. Berdiam diri saja selama dalam perjalanan. Sebab tidak ada yang akan diajak ngobrol atau bergurau. Paling-paling Pak Sopir yang bertanya, "Nanti di jemput jam berapa, Neng?"


Oh, dia tidak lagi menyesali Papa karena disuruh naik busb pagi ini. Dia malah bersyukur karena mendapatkan banyak teman hari ini. Baginya hari ini begitu ceria. Penuh senda gurau dan gelak tawa. Menik yang selama ini jarang tertawa, kini ikut-ikutan tertawa, sehingga Wiwit berkata, "Kamu cantik lho kalau sedang tertawa."


Menik jadi kaget dipuji begitu. Dia menghentikan tawanya.


"Iiiih, kamu melebih-lebihkan saja," katanya sambil mencubit tangan Wiwit dengan gemas. "Padahal yang cantik itu kamu, kan?"


"Kalau itu sih dari dulu juga aku tahu. Kalau aku tidak cantik mana mungkin jualan kueku laris. Haa ... haaa ... haaa ..." kata Wiwit tertawa lebar. Nampaknya dia tidak merasa malu sedikit pun karena harus berjualan kue. Dan teman-temannya pun tidak ada yang menganggap Wiwit lebih rendah dari mereka karena Wiwit berjualan kue. Mereka malah meledek Wiwit dengan "Wuayo! Ge-er tuh!!"


Menik merasa mendapat banyak pengalaman pagi ini. Hari yang menyenangkan baginya. Dan satu tekad mulai tertanam di hatinya. Mulai besok aku akan jalan kaki bersama mereka. Nah, selamat jalan kaki, Menik!


Sumber: Majalah Bobo, no. 51 - 1 April 1989

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | 100 Web Hosting