Rabu, 21 September 2011

KETIKA MENIK HARUS NAIK BUS

ADA mendung pagi-pagi. Bukan di awan tetapi di wajah Menik. Mendung itu tiba-tiba saja meliputi wajah Menik ketika Papa berkata, "Pagi ini kamu naik bus saja, ya. Mobil Papa rusak, jadi tidak bisa mengantarmu ke sekolah."


"Uah! Mana tahan," Menik mengeluh. Hampir saja air mata menitik di pipinya. Apa kata teman-temannya nanti bila melihat dia naik bus? Bukan cuma itu. Naik bus tentu sangat tidak menyenangkan karena harus berdesak-desakan dengan orang banyak. Belum lagi mesti menunggu lama di pemberhentian bus. Huuuh, kenapa sih Papa tidak menukar mobil mereka dengan yang baru saja agar tidak sebentar-sebentar mogok.


"Aduh!"


Menik tersadar ketika dia merasa telah menubruk sesuatu. Rupanya karena jalan sambil melamun dia tidak melihat seorang anak yang sedang menjajakan kuenya.


"Oh, maaf, ya," katanya buru-buru. Lalu dia berjongkok untuk memunguti kue-kue yang jatuh.


"Sayang kuenya sudah kotor. Biar kuganti saja. Berapa harganya?" katanya sambil merogoh tasnya.


"Tidak usah, Nik. Cuma empat buah pisang goreng saja, kok. Dengan teman, berkorban dua ratus tidak apa-apa, kan? Apalagi aku tahu kamu tidak sengaja," kata anak itu buru-buru mencegah Menik.


Menik jadi melongo keheranan karena anak itu ternyata mengenalnya.


"Kamu kok tahu namaku?" tanyanya bingung.


Anak itu tersenyum. "Kita kan teman satu sekolah. Cuma aku di kelas lima A, sedang kamu di kelas lima B," jawabnya.


"Oooo. Maaf, lho. Aku tidak tahu," kata Menik malu. "Jadi kamu tidak sekolah hari ini?"


"Tentu saja sekolah. Aku selalu berjualan kue setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah. Lumayan untuk membiayai sekolahku. Maklum saja, orang tuaku cuma tukang minyak keliling. Tidak seperti ayahmu."


"Ah," Menik jadi malu, karena seolah dituduh sombong oleh anak itu.


"Rumah kamu dimana?" tanyanya.


"Situ. Persis di belakang rumah kamu. Kalau mau ke rumahku harus melewati gang kecil yang ada di samping rumahmu itu."


"Ah, Menik jadi tidak enak hati karena ternyata dia tidak tahu kalau di belakang rumahnya ada rumah teman sekolahnya.


"Kamu sih tidak pernah keluar rumah. Kalau ke sekolah juga selalu diantar jemput dengan mobil. Jadi mana bisa kenal dengan teman-teman yang lain. Padahal di dekat rumah kamu banyak lho teman kita. Tunggu saja lima menit lagi, mereka pasti datang berbondong-bondong ke sini untuk menunggu bus. Bahkan sebagian berjalan kaki. Termasuk juga aku."


"Kamu jalan kaki ke sekolah?" tanya Menik takjub. Bayangkan, jalan kaki sejauh satu kilometer lebih! Dia disuruh jalan kaki dari rumahnya ke tempat perhentian bus ini saja sudah menggerutu sepanjang jalan. Apalagi kalau disuruh jalan kaki ke sekolah. Setiap hari pula. Dan pulang pergi. Uiihhh!!! Mana tahan!!


"Enak lho jalan kaki ramai-ramai. Banyak pemandangan yang dilihat. Bisa tukar pengalaman dengan teman-teman selama dalam perjalanan dan juga membuat badan kita sehat dan tidak malas. Wah, maaf, ya. Aku jadi kebanyakan ngomong. Padahal aku harus buru-buru pulang. Ganti pakaian lalu berangkat ke sekolah," kata anak itu lalu mulai melangkah.


"Hai, aku belum tahu nama kamu!" seru Menik cepat-cepat sebelum anak itu jauh.


"Wiwit!" jawab anak itu. Lalu dia melangkah lagi. 
"Tunggu!" panggil Menik lagi. Terpaksa anak itu menghentikan langkahnya.


"Ada apa lagi?" Nanti aku kesiangan."
"Aku boleh ikut jalan kaki bersama kamu?"


Anak itu tertegun. Kemudian dia bertanya dengan nada tidak percaya. "Kamu mau jalan kaki?"


Menik mengangguk. "Boleh, kan?"


"Boleh saja. Asal kamu tidak mengeluh kecapekan saja. Tunggu aku lima menit lagi!" anak itu lalu berlari meninggalkan Menik yang mulai merasa lega karena pagi ini bisa mendapatkan pengalaman baru. Selama ini dia tahunya cuma duduk di mobil dari rumah hingga ke sekolah. Dia tidak pernah bisa membayangkan bagaimana rasanya berjalan kaki ke sekolah.


Ternyata jalan kaki beramai-ramai menyenangkan sekali. Tidak seperti bila duduk di mobil. Berdiam diri saja selama dalam perjalanan. Sebab tidak ada yang akan diajak ngobrol atau bergurau. Paling-paling Pak Sopir yang bertanya, "Nanti di jemput jam berapa, Neng?"


Oh, dia tidak lagi menyesali Papa karena disuruh naik busb pagi ini. Dia malah bersyukur karena mendapatkan banyak teman hari ini. Baginya hari ini begitu ceria. Penuh senda gurau dan gelak tawa. Menik yang selama ini jarang tertawa, kini ikut-ikutan tertawa, sehingga Wiwit berkata, "Kamu cantik lho kalau sedang tertawa."


Menik jadi kaget dipuji begitu. Dia menghentikan tawanya.


"Iiiih, kamu melebih-lebihkan saja," katanya sambil mencubit tangan Wiwit dengan gemas. "Padahal yang cantik itu kamu, kan?"


"Kalau itu sih dari dulu juga aku tahu. Kalau aku tidak cantik mana mungkin jualan kueku laris. Haa ... haaa ... haaa ..." kata Wiwit tertawa lebar. Nampaknya dia tidak merasa malu sedikit pun karena harus berjualan kue. Dan teman-temannya pun tidak ada yang menganggap Wiwit lebih rendah dari mereka karena Wiwit berjualan kue. Mereka malah meledek Wiwit dengan "Wuayo! Ge-er tuh!!"


Menik merasa mendapat banyak pengalaman pagi ini. Hari yang menyenangkan baginya. Dan satu tekad mulai tertanam di hatinya. Mulai besok aku akan jalan kaki bersama mereka. Nah, selamat jalan kaki, Menik!


Sumber: Majalah Bobo, no. 51 - 1 April 1989

Selasa, 20 September 2011

SURAT UNTUK PAMAN

UNTUK sementara waktu, Ayah harus istirahat. Ia tidak boleh bangun dari ranjangnya. Sedang Ibu nampak begitu repot. Sebab selain merawat Ayah yang sakit, Ibu kini mengganti tugas ayah mencari uang. Untung ada juga ibu-ibu yang menjahitkan pakaiannya pada Ibu. Lalu, Ibu pun lupa menulis surat untuk Paman.


Karena Ibu semakin sibuk dan tak punya waktu sedikitpun untuk menulis surat, maka Dino disuruhnya untuk menulis surat. Dino saat itu baru kelas IV SD. Sekali pun dia belum pernah menulis surat.


"Dino belum mampu, Bu! kata Dino beralasan.


"Semua kan harus di coba, Din! Pekerjaan apa pun sulitnya harus dicoba. Kalau belum apa-apa sudah bilang tak mampu. Bagaimana akhirnya kau bisa menulis surat?" kata Ibu menasihati.


"Kan lebih baik Ibu. Tulisan Dino masih seperti cakar ayam. Nanti kalau Paman tak mengerti kan repot juga!" elak Dino.


"Ibu semakin sibuk, Din! Cobalah, Ibu yakin, Dino bisa," kata Ibu memberi semangat.


Ibunya kemudian memberikan penjelasan mengenai pekerjaannya. Masalah yang ia hadapi dan sebagainya. Dino terdiam. Ia mulai berpikir. Kalau menolak perintah Ibu, tentu kasihan Ibu. Kata Pak Guru, tak baik menolak perintah orang tua.


"Baiklah kalau begitu, Dino akan menulis surat untuk Paman. Tapi bagaimana isi surat itu, Bu?" tanya Dino.


Ibunya yang sedang sibuk menjahit menjawab, "Katakan seperti keadaan kita saat ini ...."


Dino tak lama kemudian sibuk menulis surat. Satu, dua sampai tiga kali dirobeknya surat yang dibuat. Dino tak puas dengan isi surat dibuatnya. Memang tak gampang menulis surat, pikir Dino. Walau demikian ia tak putus asa. Setelah mengalami kegagalan, akhirnya Dino pun berhasil. Ia lega setelah suratnya selesai. Ibu tak perlu repot-repot menulis surat. Sebab pekerjaannya memang banyak menyita waktu.


Selang beberapa hari datang Pak Pos dan Wesel Pos ke rumah Dino. Surat itu balasan dari Paman.


"Bu, Bu .... surat dari Paman!" teriak Dino, memberikan amplop dan selembar wesel pos pada ibunya.


Sesaat ibunya menghentikan pekerjaannya. Setelah membuka amplop dibacanya surat dari paman Dino itu. Betapa ibu Dino tercengang setelah selesai membaca.


"Aduh, Dino ... Dino ..." seru Ibunya, "Kau bilang apa pada pamanmu?" kata Ibu penuh penyesalan.


"Ya, Dino bilang seperti keadaan kita waktu Ayah sakit!" kata Dino polos.


"Ya, ampun!" seru ibunya malu, karena paman Dino mengirim sejumlah uang. Padahal maksud Dino, supaya paman Dino itu datang dan menggantikan pekerjaan Ayah untuk sementara waktu.


"Dino kan tahu, pamanmu lagi menganggur sekarang! Jadi .... tentu saja ia tak punya uang. Dan wesel itu ... 




Bersambung

Sabtu, 10 September 2011

KARIM, JURU MASAK ISTANA

Pak Karim adalah juru masak istana. Ia amat pandai memasak. Masakannya lezat. Raja amat menyukainya.


PADA suatu hari satu perangkat pisau kerajaan hilang. Raja menuduh Pak Karim yang mengambilnya. Sebab, dialah yang bertanggung jawab atas peralatan dapur istana.


"Kenapa kau mengambilnya, Karim?" tuduh Raja.


"Hamba tidak mengambilnya Paduka. Sungguh....." jawab Pak Karim ketakutan.


Raja sudah terlanjur murka. Sebab, pisau itu adalah benda kesayangan istrinya. Raja akan menghukum Pak Karim. Tetapi mengingat jasa Pak Karim, Raja tidak memenjarakannya. Raja hanya mengusir Pak Karim dari istana.


Pak Karim amat sedih. Ia tak berani tinggal di kota. Orang-orang pasti ikut-ikutan menuduhnya sebagai pencuri.


"Kenapa Raja bisa sekejam ini padaku. Raja benar-benar tak mau mempercayai penjelasanku," gumam Pak Karim sedih.


Pak Karim berkelana dalam hutan. Ia makan apa saja yang ada disitu. Buah-buahan dan sayur-sayuran. Beberapa hari kemudian, ia sampai di sebuah sungai. Tepi sungai itu ditumbuhi tanaman bambu yang rimbun. Pak Karim beristirahat di bawahnya. Perutnya mulai lapar. Tetapi, ia tak menemukan sesuatu yang bisa dimakan. Tangannya mencongkel tanah yang gembur di dekatnya. Ia menyentuh batang bambu muda. Ia mengupas kulitnya. Dagingnya berwarna kuning.


"Mungkin bambu muda ini bisa kuolah menjadi makanan," gumamnya.


Pak Karim mulai memasak. Berkat pengalamannya, bambu muda itu dapat diolahnya mejadi sayuran lezat.


Di istana, Raja duduk dengan wajah muram. Ia menyesal telah mengusir Pak Karim. Pak Karim tidak bersalah. Rajalah yang bertindak gegabah. Pisau yang hilang itu sebenarnya telah dihadiahkan kepada seseorang. Raja lupa telah memberikan benda itu. Untuk menebus kesalahannya, Raja memerintahkan pengawal untuk mencari Pak Karim. Tetapi, mereka tidak berhasil menemukan Pak Karim.


Raja rindu pada masakan Pak Karim. Juru masak yang baru tidak sepintar Pak Karim. Raja bosan memakan masakan yang dihidangkan. Karena ingin makan lezat, Raja sampai membuat sayembara memasak. Tetapi, tak seorang pun bisa menandingi keahlian Pak Karim.


Seorang pengawal menghadap tergesa-gesa.


"Paduka, ada restoran baru di kota ini. Masakannya lezat. Lebih-lebih yang disebut sayur rebung. Rakyat amat menyukainya. Mereka sampai antri kalau memesannya," lapor pengawal.


Raja langsung tertarik.


"Panggil juru masak restoran itu ke sini. Perintahkan untuk menghidangkan sayur rebung di istanaku ini," titah Raja.


Tak lama pengawal itu pun kembali. Ia membawa juru masak ke istana. Juru masak segera menyiapkan masakan istimewanya. Sayur rebung.


Raja mencicipi masakan itu.


"Hm, lezat!" seru Raja sambil mencicipinya. "Panggil juru masak itu untuk menghadapku!"


Juru masak muncul di hadapan Raja.


"Kau siapa? Sungguh lezat masakanmu!" puji Raja.


"Terima kasih, Paduka. Hamba gembira, Paduka menyukai masakan saya," ujar juru masak pelan.


Raja seperti pernah mengenal suara itu. Raja lalu mengamati orang itu dengan lebih cermat.


"Karim! Kaukah itu?"teriak Raja gembira.


"Ampun, Paduka. Hamba memang Karim!"


"Tengadahlah, Karim!" perintah Raja.


Pelan-pelan Karim mengangkat kepalanya.


"Karim, maukah kau kembali ke istanaku lagi?" tanya Raja penuh harap.


"Hamba tidak pantas menerima kebaikan Paduka."


"Jangan begitu, Karim. Kau tidak salah. Akulah yang gegabah. Aku menuduhmu tanpa mencari bukti terlebih dahulu. Kumohon, tinggallah di istanaku lagi," pinta Raja.


Pak Karim terharu mendengar pengakuan Raja. Ia tak tega menolak kebaikan Raja. Sejak saat itu, Pak Karim menjadi juru masak istana lagi. Dan, sayur rebung penemuannya amat disukai oleh Raja dan rakyatnya.


Sumber: Majalah Bobo, no.19 Tahun XVII - 19 Agustus 1989

Rabu, 07 September 2011

TIKA YANG MANIS

TIKA sudah mandi dan berdandan rapi ketika bertemu Nia. Rambutnya yang panjang diikat menjadi dua dengan pita merah. Bibirnya yang mungil tersenyum. Ia berjalan amat lincah. Dan roknya yang bagus melambai-lambai ditup angin. Nia iri sekali pada sahabatnya itu!


Memang dalam kehidupan sehari-hari Tika amat manis. Oleh sebab itu mama Nia selalu menyebut Tika sebagai gadis cilik yang manis.


"Coba lihat Tika! Nah, kelihatan manis kan?" kata Mama suatu hari. Ketika Tika datang bermain ke rumah Nia. Ketika itu Nia baru bangun tidur. Jadi Nia tak semanis Tika.


Sekarang Nia sudah mandi dan bersiap-siap ke rumah Tika. Kebetulan Tika sudah datang.


"Halo!" Sapa Nia. Tika tersenyum dan mendekati temannya. 


"Sudah siap?" tanya Tika.


"Sudah. Katanya Tika punya boneka baru ya?


"Iya!


"Siapa yang belikan?" tanya Nia.


"Beli sendiri dong!" jawab Tika, sambil tersenyum bangga.


"Kalau begitu Tika banyak duit ya. Dari mana uang sebanyak itu? Kan Tika tidak kerja?" tanya Nia penuh selidik.


"Yaaa ... dari menabung!" jawab Tika lincah.


Sesaat Nia berpikir. Selama ini Nia memang tak pernah menabung. Uangnya selalu habis untuk jajan disekolah.


"Kalau begitu Tika tak pernah jajan dong?" tanya Nia.


"Pernah!" jawab Tika. Matanya berbinar-binar melihat sahabatnya penasaran, 


"Tika juga jajan. Tapi tidak semua. Sebagian uang Tika ditabung."


"Oh! seru Nia baru mengerti, "Jadi Tika tidak membelanjakan semua uang saku?"


"Dong ... eh, iya dong!" jawab Tika jenaka. Mereka berdua tertawa.  "Yuk, ke rumah! ajak Tika setelah berbincang-bincang.


Gadis yang manis itu berlari kecil, diikuti oleh Nia dari belakang. Rok Tika melambai-lambai. Begitu pula rambutnya yang diikat rapi.


Pada waktu bermain-main boneka. Nia bertanya pada Tika.


"Kenapa rambut bonekamu di kuncir?"


"Supaya kelihatan manis dong!" jawab Tika.


"Kenapa ada sikat gigi juga!" tanya Nia.


"Supaya gigi bonekaku tetap sehat!" jawab Tika sambil mengayun-ayunkan bonekanya dengan sayang. Nia mengawasi temannya terheran-heran. 


"Apakah bonekamu kau mandikan juga? tanya Nia sambil menatap keheranan. Tika menatap temannya tak mengerti. Ia kemudian tersenyum dan jawabnya,


"Tidak sih! Nanti boneka Tika rusak."


"Tapi, kenapa Tika sediakan sikat gigi di sebelah tempat boneka itu?"


"Yaaa ... kata Mama biar Tika ingat selalu pada kebersihan. Berapa kali Nia gosok gigi?" Tika lalu bertanya.


"Satu kali!" jawab Nia.


"Wah!"


"Mengapa wah?" tanya Nia.


"Dua kali dong! Pagi dan malam sebelum tidur ..." Tika menjelaskan.


Nia terdiam. Ia ingat mamanya yang selalu memperingatkannya. Nia bertanya lagi. 


"Tika mandi berapa kali?"
"Ya dua kali!"
"Kalau begitu Nia salah," kata Nia terus terang. "Nia mandi cuma satu kali. Kalau Mama memandikan baru dua kali ..."


"Kalau begitu Nia salah," kata Nia terus terang, "Nia mandi cuma satu kali. Kalau Mama memandikan baru dua kali ..."


"Hiiii ...." Tika cekikikan. Geli melihat temannya, "Kenapa masih dimandikan?"


"Tika mandi sendiri?"


"Iya!"


"Kalau begitu Nia harus gosok gigi dua kali. Mandi sendiri. Apa Tika berdandan sendiri?"


Tika mengangguk, "Cuma kalau sulit ya dibantu Mama." jawab Tika bersemangat.


"Oh, begitu ya?!


"Iya!"


Nia tersenyum. Ia ingat mamanya yang selalu memberi nasihat supaya seperti Tika yang manis.


Sumber: Majalah Bobo, no.48 - 5 Maret 1988









Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | 100 Web Hosting